Persiapan menghadapi Ujian Online

Ujian nasional sudahDSCF9282 dekat. Setiap sekolah mempersiapkan diri dengan baik, baik persiapan siswanya maupun persiapan fasilitas pendukung, terlebih tahun ini, pemerintah menyiapkan tes UN dengan model pilihan yaitu model CBT Computer Based Test, atau Tes Berbasis Komputer. Fasilitas yang disiapkan utamanya adalah komputer dan pendukungnya seperti listrik yang memadai.

Sebelumnya, saya dan mungkin banyak masyarakat yang salah dalam memahami model UN yang berbasis komputer, yang menganggap bahwa UN bersifat Online, atau menggunakan jaringan internet. Namun sebenarnya tidak seperti itu. Bahwa tes menggunakan komputer adalah benar tetapi jaringan yang dibutuhkan hanya jaringan lokal antara komputer server dan komputer yang akan dipakai siswa yang keduanya berada di sekolah masing-masing..

Pada awalnya ada beberapa sekolah di tiap kota yang ditunjuk oleh kementerian untuk menggunakan model ini, namun kemudian banyak permintaan yang datang dari sekolah-sekolah baik di kota maupun di daerah. Untuk memfasilitasi ini, pemerintah kemudian mempersilahkan sekolah yang mau, mengajukan diri dengan membuat surat permohonan. Kemudian setelah surat permohonan diterima, pihak kementerian melakukan survey ke sekolah masing-masing, semacam studi kelayakan. Tempat saya bekerja kemarin disurvey oleh Pustekom.

Syarat teknis yang harus ada di sekolah untuk CBT ini adalah jumlah komputer sebanyak 1/3 jumlah siswa satu angkatan, jadi maksimal bisa 3 gelombang siswa bergantian. Satu server sebesar 1 Mega dapat digunakan untuk 30 komputer. Untuk spesifikasi komputer adalah RAM 4Mega, 64 Bit, dan prosesor intel core i3. Menurut info dari rekan-rekan di tempat lain, ada sekolah yang mengajukan UN CBT ini dengan jumlah komputer yang mereka miliki di tiap sekolah tidak mencukupi, kurang dari 1/3, lalu ko mengajukan? ternyata mereka berharap dengan pengajuan ini akan ada bantuan komputer dari pemerintah. Cerdas juga ya, tetapi entah apakah dikabulkan pemerintah atau tidak.

Kemudian sekolah harus memiliki listrik yang memadai dan tentu juga sumber listrik cadangan, genset misalnya. Agar listrik tetap dapat mengalir terus. Bayangkan kalau tiba-tiba mati. Sebagai alternatif banyak sekolah yang juga mengajukan UPS, yang tujuannya untuk penyimpan dan mensuplai listrik, sehingga jika listrik mati masih ada daya listrik yang dapat disalurkan selama beberapa jam. Masalah pengajuan UPS inilah yang sedang hangat-hangatnya di Jakarta.

Setelah itu yang harus dipersiapkan tentu sosialisasi kepada siswa tentang penggunaakan komputer. Sebenarnya paling bagus adalah jika pemerintah memberikan contoh atau try out menggunakan model CBT seperti UN, agar setiap sekolah yang akan menggunakan model UN ini tidak bingung dalam menghadapinya nanti. Siswapun tidak akan lama dalam memulai atau mengerjakan, karena sudah pernah mencoba sebelumnya. Namun jika tidak ada, maka sekolah paling tidak memberikan pembekalan pengenalan komputer kepada siswa. Jangan sampai ada siswa yang belum mengerti dalam menggunakan komputer.

Langkah selanjutnya adalah sekolah harus mempersiapkan teknisi IT yang mumpuni. Ada beberapa tugas untuk tim IT, yang pertama adalah mereka harus siap standby nongkrogin komputer server sehingga jika ada problem dapat cepat tertangani. Tim IT juga harus ada yang siap di depan kelas atau di sekretariat Ujian Nasional, jika ada komputer siswa yang tiba-tiba hang, dapat segera tertangani dengan baik. Siswapun tidak stress karena tahu ada yang akan siap menangani kerusakan. Kalau mau hemat, para pengawas diberi pelatihan dulu sehingga mampu memperbaiki computer yang hang, cuma saya ragu juga dengan yang ini karena banyak guru juga yang belum mengerti menggunakan komputer.

Untuk mekanisme pemberian soal dari pemerintah ke sekolah menurut saya akan sebagai berikut. Pemerintah akan mengirim soal ke komputer server sekolah. Sekolah kemudian menghubungkan server dengan komputer siswa, sehingga soal dapat dibuka. Setiap komputer yang digunakan siswa akan menampilkan soal untuk dikerjakan.

UN berbasis computer ini secara umum terlihat canggih dan paperless. Namun ada juga beberapa hal yang harus diperhatikan, sebagai sebuah kelemahan. Pertama. Kekhawatiran siswa karena tidak familiar dalam menggunakan komputer akan muncul, begitupula kekhawatiran komputer akan bekerja lambat atau lemot, bahkan buntu (hang), dan mengacaukan jawaban soal yang sudah dikerjakan siswa. Jika komputer hang, butuh waktu untuk memperbaiki, ini akan membuat siswa makin stress dan merasa diperlakukan tidak adil jika tidak ada penambahan waktu.

Kekurangannya yang kedua adalah jika dilaksanakan dengan 3 gelombang, soal UN rawan bocor. Siswa yang masuk di gelombang pertama bisa berkesempatan bercerita tentang soal yang baru dikerjakan kepada siswa gelombang kedua atau ketiga karena jeda waktu saat istirahat atau rentang waktu yang cukup panjang antara gelombang pertama dan ketiga. Kemudian posisi komputer di dalam kelas, jika tidak diatur sedemikian rupa akan memudahkan siswa memberikan contekan kepada lainnya. Pada umumnya kelas didesain dengan komputer yang berhadap-hadapan, ini cukup rawan.

Kekurangan yang ketiga adalah waktu UN untuk satu hari bisa jadi lebih panjang dan waktu total bisa lebih dari 6 hari untuk 6 pelajaran. Yang biasanya jam 12 sudah selesai, kali ini bisa sampai jam 15 sore. Taruhlah mata pelajaran bahasa Inggris, yang biasanya 2 jam. Jika mulai jam 8 pagi maka gelombang pertama akan berakhir jam 10. Kemudian istirahat sampai 10.30 mulai lagi 10.30 sampai 12.30. Kemudian istirahat makan siang sampai jam 13.30, mulai lagi 2 jam sampai jam 15.30. Ini jika computer berjalan lancar, kalau ada hang misalnya, bisa lebih sore lagi. Hari pelaksanaan UN juga bisa mencapai 6 hari dengan perhitungan sehari 1 mata pelajaran, karena ga mungkin 2 mata pelajaran dikarenakan waktu pengerjaan yang mungkin sampai sore akibat dari 3 gelombang tadi.

Apa yang harus dilakukan sebagai sebuah persiapan terhadap kekurangan tersebut? Yang pertama ya tentu kesiapan teknologi yaitu komputer. Jangan sampai yang digunakan adalah komputer jadul Kemudian yang kedua tata computer di kelas sebisa mungkin tidak memudahkan siswa bertatap muka atau memberi jawaban. Untuk kesempatan memberi tahu gelombang pertama kepada yang kedua atau ketiga, disiasati dengan menggunakan soal yang berbeda. Jadi paling tidak ada 3 paket soal untuk tiap mata pelajaran. Yang ketiga mengenai waktu pengerjaan, sekolah harus mencari cara bagaimana caranya siswa beristirahat cukup, makan cukup, sehingga siang hari masih segar untuk mengerjaakan UN.

Kecanggihan teknologi sangat bermanfaat untuk dunia pendidikan kita, seperti model UN yang berbasis komputer ini. Namun tetap ada kekurangan sehingga butuh persiapan yang sangat matang, baik dari sisi peralatannya, siswanya, maupun tenaga pendukung seperti tim IT, jangan sampai menjadi momok yang menghawatirkan bagi siswa, apalagi jika siswa nantinya gagal hanya karena masalah teknis seperti komputer yang lemot. Yang tadinya kita ingin mengeluarkan siswa dari belenggu UN yang menakutkan malah memberi kekecewaan lain yang bisa menimpa baik yang kurang tetapi juga siswa yang berprestasi. Akhirul kalam cuma doa yang bisa menenangkan kita “Semoga model UN kali ini membawa kondisi yang lebih baik dari sebelumnya,amin!”

sumber : kompasiana